Kuala Lumpur (KABARIN) - Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menegaskan bahwa siapa pun yang tidak bisa menerima Bahasa Melayu sebaiknya tidak tinggal di negara itu.
Hal itu disampaikan saat pembukaan Sidang Pertama Masa Jabatan Ke-15 Parlemen Malaysia di Kuala Lumpur, Senin.
"Bahasa Melayu harus menjadi bahasa utama karena merupakan bahasa kebangsaan. Kalau ada yang tidak terima Bahasa Melayu, lebih baik jangan duduk [tinggal] di Malaysia," ujar Sultan Ibrahim.
Ia menekankan bahwa sistem pendidikan baru harus sejalan dengan kebijakan nasional yang menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama.
Sultan Ibrahim meminta semua rancangan pendidikan tetap menekankan Bahasa Melayu dan sejarah Malaysia sebagai bagian penting dalam pembelajaran.
Selain itu, Raja juga mengingatkan bahwa pembentukan Malaysia berdasarkan Perjanjian Malaysia 1963 yang menyatukan Tanah Melayu, Sabah, dan Sarawak.
Ia mengajak seluruh pihak untuk kembali pada tujuan awal pembentukan negara, yakni memperkuat persatuan, saling menghormati, dan kerja sama erat antara negara bagian dan pemerintah pusat.
Sultan Ibrahim juga meminta anggota parlemen lebih berhati-hati dalam berbicara agar tidak menimbulkan ketegangan atau provokasi.
Ia menegaskan perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan matang, bukan dengan kebencian atau prasangka. Hak-hak negara bagian tetap dihormati, tapi kepentingan Malaysia secara keseluruhan harus diutamakan.
Selain itu, Raja juga menekankan bahwa setiap keputusan dan perdebatan di parlemen tidak boleh hanya didasarkan pada kepentingan politik partai, tetapi juga harus memikirkan masa depan negara.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026